ARTIKEL

5 Sastrawan Besar Indonesia ini Dipenjara karena Pandangan Politiknya

Berikut adalah daftar 5 sastrawan besar Indonesia yang pernah merasakan dinginnya lantai penjara!

Mochtar Lubis

Mochtar Lubis

Mochtar Lubis

Pada 1957, pengarang novel Jalan Tak Ada Ujung ini pernah menjadi tahanan rumah dan tahanan penjara selama sembilan tahun karena dianggap sebagai oposan Presiden Soekarno. Salah satu pendiri majalah sastra Horison ini dipenjara lantaran karya-karya jurnalistiknya. Lubis pernah meraih penghargaan bergengsi Magsasay Award.  Dia meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004, pada usia 82 tahun.

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Pada tahun 1960-an, pengarang Bumi Manusia ini ditahan oleh pemerintahan Soeharto lantaran pandangan Pro-Komunisnya. Buku-bukunya dilarang beredar dan dia juga dilarang menulis selama berada di ruang tahanan yang berada di Pulau Buru. Dia telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Pada 1995, dia juga pernah mendapatkan Ramon Magsaysay Award, tetapi sebanyak 26 tokoh sastra Indonesa tidak setuju. Mereka menuding Pram adalah algojo Lekra (Lembaga Kerakyatan) paling galak pada masa demokrasi terpimpin. Salah satu tokoh sastra yang tidak setuju adalah Mochtar Lubis, yang mengancam akan mengembalikan hadiah Magsasay yang diperolehnya jika Pram tetap mendapatkan hadiah yang sama. Pengarang hebat dan juga seorang perokok berat yang pernah di miliki Indonesia ini meninggal di Jakarta, 30 April 2006, pada usia 81 tahun.

Sitor Situmorang

Sitor Situmorang

Sitor Situmorang

Pada 1967, Sitor Situmorang mendekam di penjara karena menulis esai berjudul ‘Sastra Revolusioner’. Dia dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pemberontakan. Dia ditahan pemerintahan Orde Baru mulai dari tahun 1967-1974. Penyair “Malam Lebaran” ini meninggal di Belanda, 21 Desember 2014, pada usia 91 tahun.

W.S. Rendra

W.S. Rendra

W.S. Rendra

Pada tahun 1977, penyair yang lebih dikenal sebagai Si Burung Merak ini ditahan di rutan militer Jalan Guntur, Jakarta, akibat pembacaan salah satu puisinya di Taman Ismail Marzuki. Puisi yang Rendra deklamasikan itu ternyata membuat gerah pemerintahan Orde Baru. Puisinya itu dianggap mampu mengagitasi masyarakat dan dapat mengganggu stabilitas nasional. W.S. Rendra meninggal di Depok, 6 Agustus 2009, pada usia 73 tahun.

Wiji Thukul

Wiji Thukul

Wiji Thukul

Pada tahun1996, penyair yang terkenal menciptakan slogan “Satu kata: Lawan!” ini menjadi buronan pemerintah Orde Baru. Pada tahun itu dia pamit kepada istrinya untuk pergi bersembunyi, dan sampai sekarang dia tidak pernah kembali lagi. Dia menjadi buronan karena jenderal-jenderal di Jakarta menuding puisi-puisinya menghasut para aktivis untuk melawan pemerintah Orde Baru. Banyak yang menduga dia hilang dan tidak pernah pulang karena telah menjadi korban penculikan dan pembunuhan menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat 1998. Ya, Wiji Thukul memang tidak dipenjara, tetapi diculik oleh tangan-tangan para penguasa korup yang gerah mendengarkan puisi-puisi lugasnya.

[NHD/Spoila]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s