ARTIKEL

9 Fakta tentang Sanusi Pane

 

Sanusi Pane

Sanusi Pane

Sanusi Pane adalah salah satu sastrawan angkatan Pujangga Baru. Buku kumpulan puisinya berjudul Puspa Mega (1927) dan Madah Kelana (1933) diterbitkan oleh Balai Pustaka. Selain puisi, ia juga menulis naskah drama dalam bahasa Belanda berjudul Airlangga, terbit tahun 1928. Das Chall menerjemahkan buku itu dalam bahasa Indonesia dan menerbitkannya di Balai Pustaka tahun 1985.

Selain menulis sastra, Sanusi Pane juga menulis buku Sejarah Indonesia dalam 4 jilid yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1942. Sepuluh tahun kemudian, ia menerbitkan Sejarah Indonesia Sepanjang Masa juga di Balai Pustaka.

Spoila menyuguhkan beberapa fakta tentang Sanusi Pane untuk pembaca. Selamat menikmati!

1. Sosok yang rendah hati

Suatu ketika, J.U. Nasution ingin menulis buku tentang karya-karya Sanusi Pane. Ia ingin mewawancarai sastrawan itu. Namun, ia tidak pernah berhasil. Sanusi Pane selalu mengatakan kepadanya, “Saya bukan apa-apa … saya bukan apa-apa ….”

2. Berdebat dengan Sutan Takdir Alisjahbana

Sanusi Pane terlibat dalam polemik yang dimulai oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Polemik itu dikenal sebagai “Polemik Kebudayaan”. Ia menolak pandangan Takdir yang beranggapan bangsa Indonesia harus meninggalkan tradisi masa lalu dan menengok kepada Barat jika ingin maju. Sanusi Pane tidak sepenuhnya setuju. Baginya, bangsa Indonesia harus mengawinkan Arjuna (sebagai representasi Timur) dan Faust (sebagai representasi Barat) jika ingin maju.

3. Menolak penghargaan dari Presiden Soekarno

Soekarno pernah ingin memberikan Satya Lencana Kebudayaan kepada Sanusi Pane, tapi ia menolak. Istrinya terkejut dengan penolakannya. Ia menanyakan alasan penolakan suaminya. Sanusi Pane mengatakan, “Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu adalah semata-mata kewajibanku sebagai putra bangsa.”

4. Menolak antar jemput

Sanusi Pane pernah bekerja di Balai Pustaka. Di kantornya, ada fasilitas antar jemput karyawan. Namun, ia selalu menolak diantar jemput. Ia lebih memilih pulang-pergi kantor dengan jalan kaki.

5. Membiarkan jatah berasnya busuk

Sebagai karyawan Balai Pustaka, Sanusi Pane berhak mendapatkan jatah beras dari perusahaan. Namun, ia sering membiarkan jatah berasnya membusuk digudang tanpa diambilnya.

6. Tidak memperhatikan karier

Selama ia menjadi penulis atau penyunting di Balai Pustaka, ia sering mengabaikan tawaran yang berkaitan dengan kariernya. Selama di Balai Pustaka pun, ia tidak pernah mengurus kenaikan pangkat.

7. Pantang makan daging

Sanusi Pane pernah berpantang memakan daging. Hal itu dilakukannya karena agama Hindu mengajarkan untuk menyayangi sesama makhluk, termasuk binatang. Baginya, jika orang menyayangi binatang, konsekuensinya harus pantang makan dagingnya.

8. Minta dikremasi setelah mati

Ketika Sanusi Pane akan meninggal dunia, ia berpesan kepada keluarganya, agar jasadnya diperabukan atau dikremasi seperti pujangga-pujangga Hindu dahulu. Namun, permintaannya itu ditolak oleh keluarganya karena dianggap tidak sesuai dengan agama yang dianut olehnya, yakni islam.

9. Pernah tinggal di India

Sanusi Pane pernah tinggal selama 2 tahun di negeri asal agama Hindu itu. Ia menyaksikan dan mengalami sendiri kehidupan masyarakat Hindu di sana sehingga ajaran Hindu benar-benar merasuk ke dalam hatinya.

[DeZhaVoe/Spoila]

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s