ARTIKEL

13 Puisi Chairil Anwar untuk 10 Wanita

Chairil-Anwar

Puisi adalah ungkapan jiwa. Melalui beberapa puisinya, Chairil Anwar yang terkenal dengan julukan si Binatang Jalang suka mengekspresikan perasaannya kepada wanita-wanita yang ia cintai. Ada beberapa puisi yang ia persembahkan untuk wanita, seperti Sumirat, Gadis Rasyid, Sri Ayati, Karinah, Ida, Nyonya N, Tuti Artic, Dien Tamaela.

Beberapa nama dari wanita-wanita tersebut memang dikenal pernah dekat dengan Chairil, bahkan menjadi kekasih dan tunangannya. Sumirat sempat bertunangan dengan Chairil, tapi kandas. Gadis Rasyid, Dien Tamaela, dan Karinah memang pernah menjadi kekasihnya,  sedangkan Sri Ayati sudah punya kekasih saat Chairil menulis puisi untuknya.

Beberapa nama merupakan misteri, tidak ada yang tahu, apakah mereka memang sosok yang nyata atau hanya hidup dalam imajinasi Chairil. Mereka adalah Ida, Tuti, Ina Mia, dan Nyonya N.

Spoila menyajikan puisi-puisiChairil Anwar yang dipersembahkan untuk seorang wanita kepada kamu. Selamat menikmati!

 

  1. Puisi untuk Sumirat

SAJAK PUTIH
buat tunanganku Mirat

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat mirat ku, Ratuku kubetuk dunia sendiri
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

18 Januari 1944

 

DENGAN MIRAT

Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam

‘Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu

1946

 

MIRAT MUDA, CHAIRIL MUDA
               di pegunungan 1943

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati

1949

  1. Puisi untuk Sri Ayati

HAMPA
kepada Sri yang selalu sangsi

Sepi di luar, Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Tak suatu kuasa-berani melepas diri
Segala menanti. Menanti-menanti.
Sepi.
Dan ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba.
Rontok-gugur segala. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

Maret 1943

 

SENJA DI PELABUHAN KECIL
                             buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

1946

 

  1. Puisi untuk Ida

IDA

Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang lengang lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.

Februari 1943

 

  1. Puisi untuk Karinah Moordjono

KENANGAN

untuk Karinah Moordjono

Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! Tercebar rasanya diri
Membumbung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

19 April 1943

 

  1. Puisi untuk K.

DARI DIA

buat K.

Jangan salahkan aku, kau kudekap
bukan karena setia, lalu pergi gemerincing ketawa!
Sebab perempuan susah mengatasi
keterharuan penghidupan yang ‘kan dibawakan
padanya…

Sebut namaku! ‘ku datang kembali ke kamar
Yang kautandai lampu merah, kaktus di jendela,
Tidak tahu buat berapa lama, tapi pasti di senja samar
Rambutku ikal menyiram, kau senapsu dulu kuhela

Sementara biarkan ‘ku hidup yang sudah
dijalinkan dalam rahsia…

Cirebon, 1946

 

  1. Puisi untuk Dien Tamaela

CERITA BUAT DIEN TAMAELA

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Beta Pattiradjawane
Kikisan laut
Berdarah laut.

Beta Pattiradjawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan.

Beta pattiradjawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kurim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

1946

 

  1. Puisi untuk Tuti

TUTI ARTIC

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan sus + coca cola.
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.

Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
— kita bersepeda kuantar kau pulang —
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang,

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… Hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

1947

 

  1. Puisi untuk Ina Mia

INA MIA

Terbaring di rangkuman pagi
— hari baru jadi —
Ina Mia mencari
hati impi,
Teraba Ina Mia
kulit harapan belaka
Ina Mia
menarik napas panjang
di tepi jurang
napsu
yang sudah lepas terhembus,
antara daun-daunan mengelabu
kabut cinta lama, cinta hilang
Terasa gentar sejenak
Ina Mia menekan tapak di hijau rumput,
Angin ikut
— dayang penghabisan yang mengipas —
Berpaling
kelihatan seorang serdadu mempercepat langkah di
tekongan.

1948

 

  1. Puisi untuk Gadis Rasyid

BUAT GADIS RASYID

Antara
Daun-daun hijau
Padang lapang dan terang
Anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa berlari-larian

Burung-burung merdu
Hujan segar dan menyebar
Bangsa muda menjadi, baru bisa bilang “aku”

Dan
Angin tajam kering, tanah semata gersang
Pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku

— mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati

Terbang
Mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat

— the only possible non-stop flight
Tidak mendapat.

1948

 

  1. Puisi buat Nyonya N

BUAT NYONYA N

Sudah terlampau puncak pada tahun yang lalu,
dan kini dia turun ke rendahan datar.
Tiba di puncak dan dia sungguh tidak tahu,
Burung-burung asing bermain keliling kepalanya
dan buah-buah hutan ganjil mencap warna pada
gaun.

Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi satu
Atas puncak tinggi sendiri
berjubah angin, dunia di bawah dan lebih dekat
kematian
Tapi hawa tinggal hampa, tiba di puncak dia
sungguh tiada tahu

Jalan yang dulu tidak akan dia tempuh lagi,
Selanjutnya tidak ada burung-burung asing, buah-
buah pandan ganjil

Turun terus. Sepi.
Datar-lebar-tidak bertepi

1949

 

Demikianlah, 10 puisi Chairil yang Spoila himpun untuk kamu. Kalau kamu menemukan puisi-puisi yang Chairil persembahkan untuk seorang wanita, silakan informasikan kepada Spoila. [Dezhavoe/SPoila]

Advertisements

2 thoughts on “13 Puisi Chairil Anwar untuk 10 Wanita

  1. Pingback: Lima perilaku keren Chairil Anwar | Gembala Tulisan

  2. Pingback: Chairil Anwar Punya 5 Kelakuan Keren yang Harus Kamu Tiru | Spoila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s